Kegoblokan Massal Gara-Gara Media Sosial

Juni 13, 2017
Ditengah masyarakat yang level pendidikannya masih relatif rendah dan tradisinya membacanya masih sangat rapuh, seperti : kenapa sejumlah berita hoax dengan mudah dishare, tanpa dicek akurasinya? Simpel penjelasannya. Peringkat minat baca buku-buku berkualitas di tanah air adalah no. 2 terburuk se-dunia, dibawah negara-negara Afrika.

Fakta yang mengejutkan:
Peringkat minat baca buku-buku berkualitas di tanah air adalah no. 2 terburuk se-dunia, dibawah negara-negara Afrika.   

Saat Anda jarang membaca buku-buku berkualitas, dan bacanya hanya informasi online abal-abal, maka sel otak Anda mudah dijebak dalam kultur fitnah, fanatisme buta dan kegoblokan kolektif.

Tradisi membaca yang buruk dan kultur intelektualitas yang rendah, acap kali membuat media sosial seperti Facebook menjadi taman indah dimana berita palsu dan hate speech berbunga

Penumpulan Kinerja Otak

Puluhan riset menunjukkan saat Anda terlalu sering dihadapkan pada berita-berita negatif yang penuh kebencian dan kepalsuan; maka psikologi jiwamu akan terguncang. Willpower Anda akan pelan-pelan tergerus. Dan Anda akan makin pesimis menatap masa depan. sungguh efek luar biasa dari apa yang di hasilkan berita negatif yang penuh kebencian dan kepalsuan

Namun barangkali tak banyak orang yang bisa secara selektif mengolah informasi; dan membedakan mana yang akurat, dan mana yang palsu.
Itulah ironi kelam era banjir lautan informasi. Ternyata semakin banyak informasi acap justru makin membuat kita kian bodoh – bukannya menambah level kepintaran kita.

Dari sisi lain  para pelaku bisnis yang memanfaatkan Facebook untuk marketing; banjirnya informasi abal-abal dan status yang sarat kebencian juga memberikan dampak negatif.

Kenapa? Sejumlah studi menunjukkan tingkat engagement Facebook bagi akun-akun bisnis untuk jualan memang kurang efektif.

Salah satu sebabnya : terlalu banyak informasi yang distraktif dan memecah konsentrasi para usernya. Ini makin menjadi-jadi saat ada isu hangat seperti Pilkada, Pilpres atau demo bla-bla lainnya.

Iklan atau status jualan dari akun bisnis menjadi tidak mendapatkan perhatian; sebab atensi usernya sudah terpecah untuk membaca aneka status di Wall Facebook yang bising.

Jika Facebook tidak efektif lagi untuk para pebisnis atau sah di blokir di Indonesia maka jalan lain adalah menggunakan akun Instagram mulai dari sekarang.

"Memblokir itu fokusnya bukan hanya kepada yang punya akun Facebook, tetapi kepada penyelenggaranya. Platform juga bertanggungjawab, Facebook juga bertanggung jawab," ujar Menkominfo Rudiantara saat diskusi di Galeri Nasional, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat.(detik)  


sumber
Yodhia antariksa- strategi management

Artikel Terkait

Previous
Next Post »