5 Alasan Orang Tidak Bisa Kaya Hingga Akhir Hayatnya

Agustus 14, 2017
Harga tanah dan rumah kian melesat. Tanpa pertumbuhan rezeki yang signifikan, cukup dan lebih, banyak pasangan muda yang sulit beli rumah, dan betah dengan sindrom MTMM = mangan turu melu mertua, sampe mati.

Kekayaan saja belum tentu membahagiakan, apalagi kemiskinan
Kenapa sebagian besar orang pertumbuhan penghasilannya stagnan, dan tak kunjung bisa makmur ?

Sejatinya ada sejumlah faktor yang mungkin bisa menjelaskan kenapa sebagian besar tidak bisa kaya hingga akhir hayatnya. Namun disini, kita hanya ingin melacak 5 alasan fundamental yang layak dikenang.




Saya sangat percaya bahwa : seiring bergulirnya waktu, semakin bergelimang harta. Seseorang menerapkan sebuah jalan pintas dalam meraih kekayaan. Sebuah rumus yang sangat mudah: “Kayalah, maka engkau menjadi kaya.” Rumus tersebut benar-benar saya terapkan. Awalnya membaca satu hadits, bahwa ketika kita memiliki makanan untuk dimakan, air untuk diminum, dan tempat berlindung, maka seolah-olah sudah mendapatkan dunia. Di sini kita belajar bagaimana memiliki mental kaya. Pikiran, perasaan, dan tindakan akan memancarkan mental tersebut Atau, Dalam kata lain kita memiliki self-image positive

1. Pessimis

Sukses belum tentu bahagia, tapi bahagia pasti akan sukses, maka lakukan yang kamu rasa bahagia maka sukses akan mengikutimu.

Ini soal mindset, soal belief (keyakinan) yang bersemayam dalam alam bawah sadar. Sering, tanpa sadar banyak orang yang memiliki kilatan pesimisme dalam hatinya.

Waduh biaya hidup makin mahal ya makan di warteg sudah 10 rb -15 itu pun cukup pakai Es teh. Hidup kok makin susah ya. Ah, saya pasti tidak mungkin. Saya tidak punya bakat untuk jadi pengusaha sukses. Aduh, jangan-jangan saya tidak akan bisa beli rumah sampai pensiun nanti.

Rentetan ucapan negative seperti diatas mungkin kadang berkelebat dalam hati. Inilah serangkaian sugesti negatif yang acap membentuk bayang-bayang pesimisme dalam jiwa yang akan menyelubungi setiap saat.

Tahukah apa yang akan terjadi ?
Energi negatif seperti itu akan diserap oleh Alam Semesta dan kemudian dibalikkan kepada raga Anda untuk menjadi suatu KENYATAAN.

Disinilah berlaku Prinsip Law Of Attraction : what you think is what you get.
Self talk negatif yang Anda pikirkan, akan mengembang, dan somehow benar-benar bisa menjadi fakta yang terasa begitu pahit.

2. Bad Learning Spirit. 
Perjalanan panjang untuk mengubah nasib sungguh tak mudah dijalani. Melelahkan, dan butuh “kecerdasan jalanan” (street smart) yang membahana dan insting yang tajam.
Sayangnya, banyak orang yang tidak “panjang akal atau berpikir lebih”. Banyak orang yang tidak punya punya kemandirian untuk belajar dan mencari solusi hingga tuntas, dan bukan manja, terus bertanya, dan malas mencari solusi secara mandiri.

Apa yang Terjadi !
Inginnya terus dibimbing seperti anak PAUD / TK / SD. Tidak punya inisiatif untuk belajar secara mandiri, dan menemukan solusi yang aplikatif.
Perjalanan mengubah nasib dan level kemakmuran pasti akan nyungsep saat self-learning spirit dan resourcefulness itu lenyap dari raga kita.

3. No Action Talk Only / NATO. 
Orang yang terlalu banyak bicara sana sini, keminter, namun tidak jalan-jalan. Kapan sugihe cah, nek sampeyan ndobos thok. Ndak pernah action.
Saya punya teman yang memiliki karakter NATO ini. Setiap kali ketemu, bicara panjang lebar tentang rencananya, mau melakukan ini, itu, itu dan itu saja.

Kapan dan dimana saja, dia masih ngomong hal yang sama. Dan yang keren, hampir semua rencananya itu belum ada yang dijalankan dan gagal ditengah jalan
Atau ada juga orang yang memang ingin berubah. Semua rencananya dipendam dalam hati (baguslah, orang ini tidak banyak omong).
Namun hasilnya ternyata sama : apa yang dipendam dalam hati itu, terus saja dipendam sampai rambutnya ubanan. Alias no action juga.
Mungkin orang itu malas. Mungkin orang itu suka menunda-nunda. Tunda terus saja sampai sampeyan pensiun mas. Baru setelah pensiun, kaget, lho kok tabunganku ndak cukup untuk hidup. Modyar kon.

4. Daya Juang, Kurang Gigih atau Tekun (Low Resiliency)

Bagi mereka yg memiliki pikiran : ingin memberangkatkan orang tua & orang lain pergi haji, ingin membangun sekolah, panti asuhan dan membangun masjid, berguna bagi masyarakat luas, membuka lapangan kerja untuk orang banyak. ingin bersedekah besar dll, maka sudah pasti menjadi kaya adalah tujuan yg seharusnya!

Oke, akhirnya mungkin orang itu sudah mau bergerak. Akhirnya mau take action. Namun sayangnya, kurang gigih. Low level of resiliency. Begitu menghadapi problem, langsung menyerah. Langsung bubar jalan. Atau ngambek. 
Elemen paling kunci dalam perjuangan mengubah level penghasilan itu adalah resiliensi, daya juang, keuletan dan kegigihan.

Sebab kesuksesan itu acap ditentukan oleh sejauh mana kamu bisa terus berjalan saat cobaan demi cobaan datang menghadang. Saat kamu bisa bangun 9 kali, ketika kamu menemui kegagalan 8 kali.

5. PELIT
Pikiran adalah pelopor, Pikiran adalah pembentuk, Pikiran adalah pemimpin
Pelit ada dua hal, pelit terhadap diri sendiri maupun ke pada orang lain.
Diantara keduanya memang akibatnya memang fatal dan membahayakan.
Pelit kepada diri sendiri juga perlu di waspadai. anda pelit memberikan ilmu / diskusi / hal yang membuat anda malas untuk belajar akibatnya otak tumpul, daya pikir hilang.

Pelit ke kepada diri sendiri dapat berupa sifat malas yang nantinya akan merugi di belakangnya karena asupan ilmu yang anda dapatkan sangat sedikit dan tertinggal jauh kebelakang. Katakan sesuatu yang anda tau.
Memberi kepada orang lain merupakan anjuran, mungkin kewajiban sebagai mahluk social dan agamis.

The more you give, the more you get. Semakin banyak Anda memberi, Anda justu akan semakin kaya..

Jalan keberkahan mungkin bisa terus terbuka, saat kita tekun memberi (memberi sedekah senyuman, sedekah ilmu, sedekah materi, atau juga sedekah kebaikan yang terus mengalir).
Saat kita punya keikhlasan untuk berbagi kebaikan, pintu rezeki akan selalu datang dari arah yang tak terduga-duga.


Lima  kunci yang layak dikenang kenapa kita dalam jalan hidup tetap serba pas-pasan / stagnant. Lima kunci adalah : 1. jiwa yang pesimis 2. learning spirit yang buruk, 3. no action talk only 4. low resiliency dan 5. Terlalu PELIT kepada diri sendiri dan orang lain.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »