Tampilkan postingan dengan label Info menarik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info menarik. Tampilkan semua postingan

100 % Karyawan Puas, Pelanggan Puas (CS=ES) Ini Fakta Studinya!

November 27, 2017 Add Comment
Tak peduli Instasi, Swasta, atau Pekerja Apapun lihatlah FAKTA STUDI BERIKUT !
Memberikan pelayanan yang memuaskan pelanggan barangkali merupakan pilihan mutlak yang kudu diambil ketika sebuah entitas bisnis hendak melestarikan kejayaannya.

Di belakangmu ada satu item yang punya peran kritikal namun SIALNYA, selama ini acap kali luput dalam perbincangan mengenai pemenuhan kepuasan pelanggan?
100 % Karyawan Puas, Pelanggan Puas (CS=ES) Ini Fakta Studinya!

Ada satu kunci ketika anda mengiginkan usaha anda terus maju!
Untuk memuaskan pelanggan maka hal pertama yang harus Anda lakukan adalah MEMUASAKAN KARYAWAN. ( dari Dahulu Inilah yang sudah di terapkan perusahaan profit luar seperti dalam sebuah buku Sergey Brin dan Larry Page mengenai google inc mereka sangat memperhatikan karyawan mulai gaji, fasilitas yang super untuk karyawan.

# You can not create satisfied customers without satisfied employees

Pernyataan diatas didukung juga oleh serangkaian studi di berbagai belahan dunia. Penelitian yang dilakukan oleh Dana Jones (1996) misalnya; menunjukkan adanya hubungan yang positif antara customer satisfaction (CS) dengan employee satisfaction (ES). Artinya tingkat kepuasan karyawan Anda berbanding lurus dengan tingkat kepuasan pelanggan yang Anda miliki — semakin puas karyawan Anda, maka semakin tinggi juga tingkat kepuasan pelanggan Anda, dan sebaliknya.

Temuan serupa juga dikenali dan dimanfaatkan oleh Sears Roebuck, sebuah perusahaan retail terkemuka dari USA. 
Dari survei tahun yang dilakukan, mereka menemukan bahwa rating kepuasan karyawannya amat menentukan tinggi rendahnya rating kepuasan pelanggan mereka, dan pada ujungnya berpengaruh terhadap tingkat profit yang mereka peroleh. Karena itu, pihak top manajemen Sears kemudian meminta setiap store manager-nya untuk peduli dengan kepuasan karyawannya; sebab faktor ini ternyata amat berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan dan juga tingkat profit yang diperoleh tiap outlet-nya.


Segenap promosi dan reklame tentang gambar pelanggan yang tersenyum puas hanya akan HANYA menjadi sebuah PARODI manakala itu tak dibarengi dengan sebuah keseriusan untuk memberikan pelayanan yang sempurna kepada para “pelanggan didalam” – yakni barisan para karyawan.

Lalu bagaimana jika saya hanya mempunyai usaha kecil, 1, 2, 3, 4 karyawan atau di atasnya seperti pekerja Ukm dan usaha yang baru berkembang?

Benar, Sekarang karyawan anda adalah manusia maka manusiakan mereka.
Perhatikan hal kecil seperti menanyakan kabar dirinya dan keluarganya itu akan membantu sedikit membahagiakan mereka dan akan menambah dekat hubungan karyawan dengan atasan, mulailah dari hal kecil seperti perhatian , menambah fasilatas kecil-kecilan kalau keuangan usaha anda mampu maka jangan ragu untuk mulai memikirkan hal lebih, karena mereka bekerja dangan anda motif terbesarnya adalah uang. Namun harus di barengi dengan peningkatan skill karyawan dan andalah yang lebih tau akan karyawan anda?
Apakah kaywan anda sudah bahagia hari ini ?
Apakah anda sudah mempedulikan karyawan anda hari Ini?

Nah itulah,CS berbanding lurus dengan ES,  100 % Karyawan Puas, Pelanggan Puas!

Sumber pandukung :
Yodhia Antarikasa, Blog strategi management

Baru Menikah dan kesulitan ekonomi ? Kisah Inspirasif Dewa Bersama Bidadarinya ini layak di renungkan.

Oktober 03, 2017 Add Comment
Layak di abadikan kisah inspiratif ini layak di abadikan dan di renungkan terutama bagi orang yang baru berpasangan dan ekonomi belum menapak matang, hilang semangat, putus asa, punya masalah besar bahkan merasa tidak ada jalan.



Ini adalah kisah yang sangat inspiratif di mana keduanya tetap kompak (saling suport ), keduanya bisa bangkit dari nol bahkan keminusan.
Seorang dewa yang jago selling atau di lebih di kenal dewa selling yang telah banyak melahirkan jutawan-jutawan muda.
Berikut kutipan kisah yang di lansir dari beranda facebook kang dewa eka prayoga :

"Aku percaya kamu bisa lewati ujian ini. Aku yakin kamu mampu. Aku akan support apapun keputusanmu. Aku sayang kamu..."
Itu adalah segelintir kata2 penguat yang terlontar dari istriku saat aku berada dalam titik nadir dan jurang kebangkrutan.

Gelap.... sungguh gelap.

Kesedihan, kegelisahan, dan keputusaasan sempat menyelimuti kehidupanku, seolah ini adalah akhir dari perjuanganku selama ini. Sampai pada akhirnya Allah hadirkan bidadari surga untuk menguatkanku, meyakinkanku, dan membersamaiku, saat menjalani ujian ini.

Hanya 18 hari pasca pernikahan, kami diuji dengan ujian pertama yang sungguh mengagetkan. Kebangkrutan, kerugian hingga miliaran, hingga cacian dan makian dari orang2 yang tersangkut dalam kasus ini. Tak heran, satu bulan setelah menikah, kami hampir memutuskan untuk berpisah. Bukan karena kami tak sanggup memperjuangkan, tapi karena desakan dan tekanan orang2 yang terdekat yang membuat kami untuk 
melakukannya.

Untungnya, Allah hadirkan ia untuk selalu membersamaiku.
Betapapun banyak cacian yang dituduhkan padanya seolah menjadi "biang kerok" kebangkrutan bisnis yang Saya jalankan ketika itu. Tapi aku mencoba tuk meyakinkan orang2 di sekitarku, bahwa ini bukan karena kesalahannya, melainkan murni karena kebodohan & kecerobohanku.

1 bulan berlalu...

Di pagi hari ketika itu, istriku mengabari,
"Mas, aku positif hamil..."
Seperti pasangan lain pada umumnya, tentu hati ini langsung berucap syukur alhamdulilah....
Terimakasih ya Allah, karena engkau menitipkan anak pada kami. Semoga kelak jadi anak sholeh/sholehah yang berbakti pada orang tuanya dan taat pada agamanya. aaamiin...

Namun apa yang terjadi?
Keluargaku, sempat kecewa dan bilang,
"Udah tahu hidup lagi susah! Ini malah hamil lagi. Gimana sih..."
Istrikupun langsung meneteskan air mata karena tak sanggup membendung kesedihan atas ucapan tersebut.
Aku pun kembali menenangkan,
"Kamu harus yakin, adanya anak ini, akan menjadi sumber rezeki tersendiri buat keluarga kita. Jangan pernah kau gugurkan. Besarkan anak kita ini dan buktikan pada orang2 di sekitar kita bahwa kita bisa melalui ujian ini..."

Aku pun bingung. SMS, telpon, chat, dan mention, terus berdatangan. Bukan untuk menerima orderan, melainkan untuk menagih hutang sembari marah2 dan mengancam,

"Kembalikan uang Saya! Kalau enggak, Saya bakar rumah kamu!"

"Saya mau uang Saya balik. Kalau enggak, Saya laporkan kamu ke polisi!"

"Uang Saya harus balik! Kalau enggak, Saya akan cemarkan nama baik kamu di sosial media!"

Akhirnya Saya pun hanya bisa pasrah..... benar2 pasrah.
Dan Saya harus bolak balik kantor polisi selama seminggu untuk menghadapi mereka yang melaporkan Saya.
Saya tak bisa menahan tangis. Air mata terus membasahi pipi setiap kali 

Saya berdoa.
"Ya Allah ya rabb... Berikan kekuatan kepadaku agar aku mampu melewaji ujian ini dengan petunjuk-Mu..."
Mobil pun terpaksa kami jual. Uang tabungan semua dicairkan. Kami pun tak punya apa2 lagi, kecuali keyakinan pada-Nya bahwa ujian ini pasti akan selesai.

Allah hadirkan seorang sahabat yang selalu setia membersamaiku, Mas 
Mirza G. Indralaksana.

"Mas, sekarang kita gerak aja. Kita mulai dari nol, bahkan minus. Kita berjuang sama2. Kita jual makanan aja.."

Saya pun bertanya, "terus yang masak siapa mas?"
Istri Saya pun langsung menjawab,
"Udah gak apa2. Aku aja yang masak. Nanti pagi2 ba'da shubuh aku ke pasar. Terus aku masakin. Siangnya kalian berdua anter pesanan makanan ini ke para pemesan. Gak apa2 kok..."

Ya Allah ya rabb...
Istriku ketika itu dalam kondisi hamil besar. Tapi mungkin karena Allah hadirkan ia untuk membersamaiku, sehingga apapun yang Saya lakukan, ia dukung 100%.

Itulah yang kami lakukan selama 9 bulan, menjual makanan dan menjual apapun yang bisa Saya jual. Bisnis makanan itupun tutup seiring kelahiran anak Saya, Nabila Faza Shaliha (itulah kenapa bisnis istri Saya diberi nama Shaliha Hijab)

Episode kegelapan belum selesai...
Saya harus cari kontrakan yang murah untuk bisa tinggal (karena kontrakan sebelumnya habis dan biaya tahunannya mahal)...
Saya harus angkat2 air beratus2 meter untuk bisa mandikan anak dengan air bersih (karena air sumurya kotor)..
Saya harus menidurkan anak di kasur lantai tipis selama berbulan2 (karena gak punya kasur)...
Saya harus keliling2 bandung motoran sambil hujan2an untuk mengantarkan pesanan (demi mendapatkan uang untuk makan)....
...dan masih banyak lagi

Saya gak kebayang, seandainya Allah tidak menghadirkan ia dalam hidupku, mungkin Saya hanya akan menjadi Dewa yang penuh keputusasaan.

Terimakasih istriku...
Terimakasih bidadariku..
Terimakasih Wiwin Supiyah...

Semoga Allah izinkan kita tuk menjadi jodoh dunia akhirat selamanya... Aamiin...

Dan semoga siapapun yang saat ini sudah memiliki pasangan, semoga Allah karuniakan Anda dengan kebaikan hingga menuju jannah-Nya bersama2. Aamiin....

> http://bidadariuntukdewa.com

Skill Tingkat Dewa Cukup Tamat SMA, Begini Caranya...

September 12, 2017 1 Comment
Jangan Kuliah Jika.... Tapi Cukup tamat SMA yang Powerfull Jika..  
Cara mendapatkan Skill Dewa Cukup Tamat SMA
Di lansir dari kompas, Menaker mengatakan15,27 juta orang tenaga kerja lulusan perguruan tinggi, hanya 5,75 juta orang (37,65 persen) yang jurusan pendidikannya sesuai dengan jabatannya. dapat di simpulkan sekitar 60% lulusan sarjana tidak bekerja pada bidangnya.



Selama ini kita mungkin sudah menyaksikannya. Atau mungkin Anda sendiri mengalaminya.

Ada sarjana teknik yang kerja di bagian keuangan bank. Ada lulusan pertanian yang kerja jadi sales. Atau ada lulusan fakultas hukum yang jualan MLM.

Kenapa itu bisa terjadi? Dan apa solusinya?

Fenomena lulusan sarjana yang bekerja di area yang tidak sesuai dengan jurusannya saya kira memang relatif banyak terjadi di sekitar kita.

Sebenarnya kejadian mis-match semacam itu menimbulkan opportunity lost yang tidak sedikit. Ilmu yang telah dipelajari selama 4 atau 5 tahun kuliah jadi tidak terpakai secara optimal.

Bayangkan misalnya : seorang sarjana teknik mesin (sebuah ilmu yang amat dibutuhkan negeri ini) mendadak malah hanya jualan kopi. Kenapa dulu saat S1 dia tidak milih kuliah saja di jurusan perkebunan kopi.

Atau bayangkan ada lulusan sarjana pertanian (ilmu yang amat teramat penting bagi negeri ini juga) mendadak hanya kerja di bagian customer service bank? Tidakkah ilmu pertanian dengan segala perniknya yang dulu ia pelajari menjadi sia-sia.


Idealnya seseorang bisa menekuni karir dan profesi yang sesuai dengan jurusan saat kuliah.

Seperti di katakan owner blog strategi dan manjamen Yodhia Antariksa mengatakan"dulu saya kuliah S1 jurusan Manajemen dan S2 jurusan HR Management. Saat ini saya bekerja sebagai konsultan manajemen SDM dan juga jualan ebook + kursus manajemen secara online. Artinya profesi saya saat ini amat sesuai dengan jurusan kuliah yang dulu saya tekuni. Ilmu yang saya pelajari benar-benar terpakai dalam karir saya saat ini".

Kenapa lebih dari 60% lulusan sarjana bekerja tidaks sesuai dengan jurusannya?

Ada dua faktor : faktor eksternal dan internal.

Faktor eksternal misalnya : ketersediaan lapangan kerja yang sesuai jurusannya masih terlalu sedikit; atau malah tidak ada sama sekali.

Atau mungkin juga jumlah lulusan dari fakultas tertentu terlalu banyak dan tidak sebanding dengan jumlah lowongan yang tersedia untuk jurusan itu (akhirnya lulusannya bekerja di bidang apa saja, asal tidak nganggur).

Faktor eksternal lain : banyak juga perusahaan yang membuka lowongan tanpa melihat latar jurusan (maksudnya semua jurusan bisa melamar posisi yang disediakan meski tidak begitu sesuai dengan jurusan asal kuliah).

Percayalah : masa depan ditentukan oleh DIRI KITA SENDIRI; dan jangan pernah mengharapkan pihak lain atau faktor eksternal untuk mengubah nasib kita.

Mengharapkan faktor eksternal atau pihak lain untuk membantu mengubah nasib kita adalah bagaikan pungguk merindukan bulan. Terlalu lama menunggunya, ntar kita malah keburu pensiun atau bahkan mati duluan sebelum nasib kita bisa berubah.

Lebih fokus pada faktor internal – sebab mengubah faktor ini lebih mudah karena berada dalam kendali diri kita sendiri.

Ada dua faktor internal yang krusial dan amat menentukan kenapa mayoritas orang kerja di area yang tidak sesuai dengan jurusannya.


Faktor yang pertama saya kira terletak pada kesalahan saat anak-anak lulusan SMA pertama kali memilih jurusan kuliah yang ia tekuni.

Mungkin banyak anak lulusan SMA yang milih jurusan kuliahnya tidak dengan pertimbangan jauh ke depan. Mungkin sekedar karena pilihan orang tua. Mungkin juga karena ikut tren.

Saya kira pihak penyelenggaran SMA harus lebih aktif memberikan bimbingan pada anak-anak kelas 3 SMA untuk menentukan pilihan jurusan kuliahnya.

Cukup tamat SMA yang Powerfull

Kini sudah era digital. Sejatinya mayoritas anak kelas 3 SMA itu sudah cukup paham dengan apa yang dia inginkan – atau apa yang menjadi passion dirinya dan kelak akan menjadi pilihan karirnya saat usia 25an tahun.

Yodhia antariksa berpendapat jika : kalau ada anak kelas 3 SMA yang hobi fotografi, mungkin akan lebih saya sarankan tidak kuliah S1 – tapi cukup kursus 1 tahun full dalam bidang fotografi profesional (hasilnya lebih terasa daripada kuliah 4 tahun di jurusan yang nggak jelas).

Atau kalau ada anak kelas 3 SMA yang hobi dunia online – maka kursus internet marketing selama 1 tahun full rasanya akan jauh lebih powerful daripada kuliah 4 tahun di jurusan yang tidak begitu ia senangi. Dia kuliah hanya karena tuntutan orang tua.

Atau kalau ada gadis kelas 3 SMA yang suka dunia fashion, maka kuliah di D3 di jurusan tata busana atau kursus di sekolah mode selama 1 tahun; akan jauh lebih impactful daripada kuliah 4 tahun di jurusan Akuntansi, Komunikasi atau Hukum.

Lagi-lagi dia kuliah di juruan yang salah mungkin karena “pakem yang salah kaprah” : bahwa setelah SMA semua harus kuliah S1 – entah apapun jurusannya yang acap tidak sesuai dengan passion anak itu. Atau mungkin sekedar ikut-ikutan pilihan temannya.

Dulu sejak sekolah SMA saya memang sudah suka dengan dunia manajemen bisnis (saat jaman SMA, saya rutin baca majalah bisnis SWA dan Warta Ekonomi).

Kalau mau kuliah di jurusan Manajemen, dan kelak bisa kerja jadi konsultan manajemen. Pikiran dan passion sejak masa SMA yang ternyata menjadi realitas. (vision)

Faktor internal kedua yang mungkin juga menyebabkan kenapa mayoritas orang kerja di area yang tidak sesuai juruannya : terlalu banyak orang yang mudah menyerah untuk memperjuangkan impiannya. Ini faktor yang menurut saya paling krusial.

Percaya : pasti banyak sarjana pertanian yang dulu punya impian untuk menjadi petani berdasi : punya kebun yang memproduksi beragam produk pertanian yang sehat, organik, dan laris manis.

Percaya : ada banyak lulusan fakultas Hukum yang punya impian bisa membangun law firm yang kredibel dan ternama.

Banyak anak jurusan teknik atau ilmu-ilmu sosial yang punya mimpi untuk bisa bekerja di area yang sesuai jurusannya, atau bahkan punya usaha sendiri dalam bidang yang dulu ia pelajari selama bertahun-tahun kuliah.

But you know what?

Ribuan anak muda itu terlalu cepat menyerah dalam berjuang mewujudkan impiannya. Aspirasi dan impian anak-anak muda itu mudah takluk saat tuntutan ekonomi jangka pendek datang menyergap.

Kebanyakan mereka akhirnya memilih lowongan pekerjaan apa saja yang ada, meski tak sesuai jurusan, daripada harus jadi pengangguran terdidik.

Entah kenapa kebanyakan orang terlalu mudah menyerah untuk memperjuangkan impiannya. Mungkin karena mereka tidak begitu yakin dengan impiannya.

Atau mungkin mereka merasa tidak punya cukup kompetensi untuk wujudkan apa yang jadi cita-citanya.

Atau mungkin karena mereka tidak punya kegigihan dan daya juang yang membara untuk membuat impiannya jadi nyata.

Atau mungkin juga karena kebanyakan orang punya pendapat klise dan gampangan : halah, yang penting kerja dapat gaji, nggak usah terlalu mikir sesuai jurusan kuliah atau tidak. 

Cara mendapatkan Skill Dewa...

Yang pertama : anak-anak yang baru lulus SMA dan mau milih jurusan kuliah, harus mendasarkan pilihannya pada apa yang menjadi passion atau MINAT dia; dan juga sudah meng-eksplorasi apa yang kelak akan menjadi pilihan karir dia.

Yang kedua : jangan terlalu cepat menyerah dalam berjuang wujudkan impian. Because life is too short to sacrifice your beautiful dream.
Vision-Action-Passion (VAP)

Make your dream alive. And make it happen.

Sumber 

3 Faktor Yang Siap Mengoyak-oyak Masa Depanmu

September 11, 2017 Add Comment
Bagaimana cara hidup Agar selalu bahagia?, pertanyaan seperti itulah yang sering muncul dalam benak berjuta-juta manusia bukan hanya saya sajaa atau kalian akan tetapi mereka bertriliunan umat setuju untuk mengatakan aku ingin hidup bahagia. Hidup yang sekali ini tidak ada orang satupun di dunia ini yang mengharapkan ingin hidupnya merana.



Di kutip dari sebuah blog terbaik se-indonesia yaitu blog strategi dan majamen yang banyak membahas tentang masalah SDM dan Srategi bisnis. sangat layak untuk anda baca.

Lebih baik
Kurangi waktu nonton berita di televisi dan selektif-lah membaca berita-berita di media. Sebab, terlalu banyak nonton berita di televisi dan media hanya akan menggerus spirit optimisme dan kebahagiaan dalam jiwamu. ( happiness scientist )

Nah, langsung saja berikut 3 Faktor Yang Siap Mengoyak-oyak Masa Depanmu atau 3 unsur negatif yang sering menyelinap dalam raga kita, dan membuat kita kian jauh dari jiwa bahagia yang meruap-ruap.

1. Negative Thinking.
Mungkin hidup saya akan begini-begini selamanya. Mungkin saya tidak akan pernah dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi dengan gaji yang lebih memadai. Mungkin selamanya saya tidak pernah sanggup membeli rumah sendiri.

Kilatan negative thinking yang pekat dengan aura pesimisme itu kadang menyelinap. Di saat kita merenung, atau di saat kita letih sehabis pulang kantor dan tiduran di dipan rumah.

Negative thinking seperti ini acap membuat motivasi kita melemah, dan membuat kita pelan-pelan terpepet dalam kepedihan. Energi positif kita kian redup dan jiwa kebahagian kita terkoyak.
Salah satu cara yang paling efektif adalah dengan justru meluangkan banyak waktu untuk berpikir ke arah sebaliknya, ke arah positif dan optimis : suatu saat penghasilan saya pasti akan melesat, dan saya paham arah kesana. Atau : saya yakin bisa membeli rumah sesuai impian saya. Hanya soal waktu untuk mewujudkannya.

Lebih banyak meluangkan waktu untuk berpikir positif dan optimis akan membuat ruang otak Anda untuk berpikir negatif dan pesimis menjadi kian mengecil. Dan persis dititik itulah, kebahagiaanmu pelan-pelan naik, dan keajaiban sebentar lagi bisa datang menghampirimu.

2. Never Ending Complaining.
Susah pak kerja disini, sistem karirnya ndak jelas. Boss saya suka pilih kasih pak. Wah targetnya sulit dicapai mas karena banyak faktor eksternal. Capek kerja disini mas, kerjaannya banyak gajinya segitu-gitu saja.

Sounds familiar?

Mengeluh, apalagi dengan frekuensi yang cukup sering, hanya akan membuat energi positifmu tersabotase dan diam-diam kepedihan akan menyergap.

Sialnya, studi neurologi membuktikan, saat energi positifmu mengkerut dan kesedihan menyergap, wawasan kreatifmu otakmu juga nyungsep. Mengeluh akan membuatmu gagal berpikir kreatif, saat mencoba menemukan jalan keluar bagi situasimu yang kurang menguntungkan.

Never ending complaining hanya akan membuat sel-sel kreativitas dalam otakmu layu, dan ini bisa memicu petaka kelam : energi untuk mencari jalan alternatif bagi perbaikan nasibmu tak lagi tersisa.

Mengeluh hanya akan membawamu dalam lingkaran setan yang muram : makin sering mengeluh > makin lenyap energi positifmu > makin mekar aura kesedihanmu > dan saat pikiran kian sedih maka otakmu gagal menemukan terobosan solusi yang kreatif > dan hidupmu akan makin terpuruk > dan karena makin terpuruk Anda akan mengeluh lagi > balik lagi ke kalimat awal.

3. Bad News and Negative Information. 
Studi menunjukkan, makin sering Anda nonton berita di televisi maka Anda justru akan makin tidak obyektif memandang kehidupan. Studi lain juga menunjukkan, makin sering menyimak berita di televisi dan media lainnya bisa membuat Anda makin pesimis melihat masa depan (Seligman, Learned Optimism, 2007).

Kenapa bisa begitu? Karena ada prinsip absurd dalam bisnis media : bad news is good news. Berita buruk dan kepedihan (bencana, kecelakaan, korupsi, pemerkosaan, bom) acap lebih banyak muncul karena konon “lebih menjual”.

Apa akibatnya, saat 85% berita-berita di media menyajikan kabar buruk (bad news) dan kepedihan?


Pelan-pelan spirit optimisme dalam jiwamu pudar, digantikan dengan aura pesimisme. Atau juga melentingkan emosi-mu karena banyak berita yang ditampilkan memang bertujuan memancing emosi.

sumber :
http://strategimanajemen.net/2015/01/12/the-science-of-happiness-misteri-3-faktor-yang-bisa-menghancurkan-masa-depanmu/

Selain Jadi Muslimah Milyader Sukses di AS, Ia Juga Sukses Didik ke-14 Anaknya di Rumah

September 11, 2017 Add Comment
Kisah Sukses Perempuan Muslimah AS Ini, termat layak untuk kita contoh dan di jadikan sumber motivasi dalam hidup. Ada beberapa poin penting yang wajib kita tiru dalam prinsip berbisnis berkut kutipan yang di ambil dari International Compas



Anak-Anak Tammie Umbel, yang berusia antara 4 sampai 26 tahun, dididik sendiri di rumah sampai masuk universitas, namun ia masih memiliki waktu untuk membangun bisnis perawatan kulit organik yang kini bernilai sekitar 1,7 juta dollar AS (sekitar Rp 22,3 miliar).

BBC melaporkan, perempuan Amerika yang kini berusia 44 tahun, memulai bisnisnya tanpa meminta pinjaman dari bank dan tak mau menerima investor untuk memperluas usahanya.

Anak-anaknya - delapan perempuan, enam laki-laki - ia didik sambil bekerja mengembangkan bisnisnya. Empat, di antaranya sudah di perguruan tinggi, dengan yang tertua hampir lulus sebagai dokter.

"Anak-anak bersama saya di kantor dan mereka saya ajak pergi ke luar negeri untuk bekerja atau mencari bahan-bahan baru (untuk perawatan kulit)," kata Umbel baru-baru ini kepada Loudoun Times Mirror, media di daerah tempat tinggalnya Loudoun County, Virginia.

"Saya senang membuat mereka sibuk," tambah Umbel. "Kami tak punya TV."

Umbel menikah dengan seorang dokter keturunan Pakistan, Syed Ishaq, pada saat usianya 16 tahun dan masuk Islam.

Ia memulai usaha produk perawatan kulitnya, Shea Terra Organics, sekitar 17 tahun lalu, dengan bahan-bahan dari komunitas lokal di sejumlah negara seperti Madagaskar, Mesir, Moroko, Namibia dan Tanzania.

Tak mau pinjam uang 'karena saya seorang Muslim 

Perusahaan pertama yang ia bentuk bergerak dalam produk tekstil namun tak berjalan dan ia memutuskan untuk menutupnya dan memulai bisnis baru.

"Saya ingin mengembangkan bisnis saya dengan cara konvensional, menjual produk, menghasilkan uang dan ditanam kembali. Saya tak pernah mau berbisnis dengan pinjaman (bank) karena saya seorang Muslim (yang mengharamkan riba) dan saya yakin bila saya melakukannya dengan benar maka semua akan terbayar."

Bahan-bahan yang ia gunakan dikenal di Barat sebagai Argan Oil dan Shea Butter, minyak dari pohon argan dan shea.

Produk perawatan kulit ini didiversifikasi dengan mencari bahan di desa-desa miskin di sejumlah negara, di mana penggunaan bahan-bahan alami masih banyak digunakan untuk perawatan kulit.

"Selama bertahun-tahun, saya ingin menciptakan lapangan pekerjaan di tempat dengan kondisi memprihatinkan. Saya tahu bahwa pengetahuan dari nenek moyang ini dapat menguntungkan penduduk asli dan saya dapat membuka pasar baru dengan produk alami," katanya.

Produk perusahaan yang berkantor di Virginia ini dijual melalui online dan disebar melalui jaringan Vitamin Shoppe dengan 700 toko di seluruh Amerika.

Salah satu kesulitan yang dihadapinya dalam usahanya adalah banyaknya "produk palsu dengan hanya sedikit bahan-bahan alami."

"Ini membuat saya sulit bersaing karena saya tak mau mengorbankan kualitas produk saya untuk mendapat penghasilan lebih," kata Umbel.

Tinggal di arena pertanian, tanpa TV

Umbel tinggal dengan suaminya bersama 14 anak di satu area pertanian. Sepuluh anaknya masih ia didik sendiri, dengan bantuan anak-anak tertua yang telah berada di universitas.

"Tujuan Shea Terra tidak pernah saya tujukan sebagai tempat saya bekerja, Apapun yang dapat saya lakukan saat saya bisa bersama anak saya dan saya dapat memberikan apa yang mereka perlukan secara emosional dan fisik, maka saya akan melakukannya," kata Umbel seperti dikutip Washington Post baru-baru ini.

"Saya senang dengan apa yang saya lakukan. Saya lakukan semuanya sendiri, dari A sampai Z," tambahnya.

Tak mudah untuk selalu membawa anak-anaknya sambil bekerja mencari bahan-bahan produk perawatan kulit, katanya.

"Kami harus terus memperbarui paspor, dan sulit sekali rasanya. Repot sekali urusan di bandara," tambahnya.

Umbel telah melatih stafnya sehingga ia tak selalu harus datang ke pabrik yang terletak sekitar setengah jam dari area pertanian Leesburg, tempat ia tinggal.

Keyakinan pada Islam

Anak-anaknya terkadang diajak ke pabrik. Umbel mengatakan, "Saya minta mereka duduk di meja untuk saya ajar sambil bolak-balik menerima pesanan. Saya mengajar sambil saya menjalankan perusahaan. Apakah sulit? Sangat. Namun saya bertekad untuk sukses."

Sebagian besar keberhasilannya karena kegigihan dan karena keyakinannya dengan Islam yang ia katakan menginspirasinya untuk mengembangkan "bisnis yang didasarkan pada kejujuran dalam menjual produk dan kemurahan hati terhadap mereka yang ikut serta dalam seluruh proses produksi."
Usaha Umbel ini banyak mendapatkan pujian di sejumlah media sosial, termasuk akun pemberdayaan perempuan, yang menggunggah ceritanya Senin (04/9/2017): #MondayInspiration: Tammie Umbel membangun bisnis US$1,7 juta sambil mendidik anak di rumah.

Akun Instagram lain, Peace_salaam64 menulis, "Saya sangat menghargai perempuan yang memberikan pendidikan, melayani dan mendidik anak-anaknya. Anda mengagumkan.


Yang lainnya menulis, "Ini adalah saudara Muslim yang secara tak sadar menunjukkan kepada para ibu Muslimah untuk membuat sesuatu menjadi kenyataan."

Sumber :
http://internasional.kompas.com/read/2017/09/09/21174471/kisah-muslimah-as-sukses-jadi-miliarder-sambil-didik-14-anak-di-rumah

Belajar 3 Hal Kunci Sukses Berbisnis dari Jack Ma Pendiri Alibaba

September 08, 2017 Add Comment
Bagaimana cara Jack Ma yang notabene hanya seorang mantan guru Bahasa Inggris ini bisa membangun bisnis Alibaba Group hingga mampu bersaing dengan eBay di daratan China, simak tiga kunci sukses Bos Alibaba membangun usaha di dunia maya.

Belajar 3 Hal Kunci Sukses Berbisnis dari Jack Ma Pendiri Alibaba


1. Mengetahui apa yang kita mau
Sebelum mendirikan Alibaba.com, Jack Ma mengundang 24 orang temannya untuk membicarakan peluang bisnis. Setelah menyampaikan peluang bisnis apa yang Ia mau, 23 orang temannya memutuskan untuk mundur karena tidak yakin dengan kemampuan Jack Ma di bidang internet. Walaupun ditentang oleh orang-orang di sekitarnya, akan tetapi Jack Ma tetap menjalankan ide bisnisnya karena Ia tidak yakin sukses atau tidak bisnisnya namun aka nada pengalaman yang Ia dapatkan untuk mencapai kesuksesan yang Ia inginkan. Terbukti, penolakan dari orang-orang di sekitarnya kini berbuah kesuksesan bagi pendiri Alibaba.com tersebut.

2. Seseorang miskin karena tidak punya ambisi
Di saat eBay masuk ke pasar China pada tahun 2002, banyak pelaku bisnis e-commerce yang gulung tikar dan memilih mundur dari medan peperangan karena bagi mereka bersaing dengan e-commerce asli Amerika Serikat tersebut merupakan suatu tindakan konyol dan membutuhkan perjuangan sangat besar.

Namun bagi pengusaha yang ambisinya cukup besar, ia atetap berani dan percaya diri untuk bersaing melawan eBay yang di berbagai negara telah merajai pasar dunia maya. Jack Ma percaya bahwa orang China tidak hanya  butuh teknologi, namun pelanggan juga ingin memiliki kedekatan dan ingin dimengerti kebutuhannya. Terbukti, cara ini berhasil mengantarkan Alibaba.com sejajar dengan eBay di Negara China.

3. Meski kecil tetapi harus dikelola dengan profesional
Kendati sekarang ini Alibaba Group telah berkembang menjadi salah satu perusahaan raksasa di Negara China, akan tetapi sejak merintisnya ia selalu berprinsip bahwa bisnis kecil pun harus dikelola dengan system yang baik. Sebab, bila cikal bakalnya saja dikelola dengan system yang buruk, maka pertumbuhannya pun juga akan memberikan hasil yang buruk. Pengalaman seperti ini pernah dialami Jack Ma ketika Ia merintis usahanya. Dulu Ia sempat mengalami kerugian cukup besar karena kecurangan yang dilakukan sang karyawan. Lemahnya pengawasan dan buruknya sistem manajemen di dalamnya, membuat Jack Ma kecolongan dan mendapati kerugian yang cukup cukup besar setiap bulannya. 

Cara merubah mental Cincai ala Daniel Mananta

September 08, 2017 Add Comment
Sekarang ini sudah saatnya generasi muda untuk all out ketika hendak terjun di dunia usaha. Sudah bukan jamannya pengusaha muda Indonesia bermental cincai. “Mental cincai, mental kompromi, itu yang harus diubah dari mindset kita,” kata Daniel dalam konferensi pers The Big Start Indonesia.



Berikut adalah 5 pesan Daniel Mananta buat kamu para pengusaha muda, untuk ubah mental cincai yang ada pada dirimu.

Pertama,
Salah satu kekurangan pengusaha muda Indonesia adalah implementasi ide cemerlang yang kurang maksimal, sehingga hasil yang didapat juga setengah-setengah. Contohnya banyak produk keren buatan anak bangsa yang tampilan casing (kemasannya) kurang menarik, alhasil tenggelam di pasar.

Kedua,
Pengusaha muda Indonesia juga harus punya mental untuk berani bermimpi setinggi langit dan berani bersaing dengan banyak kompetitor, termasuk menghadapi pesaing dari luar negeri. Sayangnya kebanyakan orang Indonesia tidak percaya diri, sehingga potensi yang ada hanya akan terkubur tanpa ada yang tahu kekuatan mereka.

Ketiga,
Jangan sepelekan internet, karena pengusaha muda Indonesia bisa bersaing secara global dengan bantuan internet. Melalui internet, Daniel kini telah berhasil mengirimkan produk Damn! I Love Indonesia ke berbegai negara. Internet memudahkannya jangkau pasar yang lebih luas. “Jadi gue percaya diri banget sebagai anak muda bisa berkompetisi dengan market global,” kata Daniel.

Keempat,
Segera beraksi dan jangan terlalu banyak menganalisa. Boleh-boleh saja melakukan survey terlebih dahulu sebelum terjun di dunia usaha, tapi jangan sampai kamu terlalu banyak menganalisa sehingga aksi yang harusnya segera dimulai justru hanya terus ditunda sampai akhirnya dibatalkan. “Buat riset sederhana dan lakukan saja dulu,” imbuhnya.

Kelima,
Sebagai pengusaha, kegagalan memang menjadi risiko. Tapi kamu harus bisa melihatnya dari segi positif sebagai calon pengusaha sukses, karena gagal bisa dijadikan pembelajaran. Kalau tidak mau gagal, tentu kita juga tidak pernah bisa belajar.

Sumber :
https://bisnisukm.com/5-pesan-daniel-mananta-ubah-mental-cincai-pengusaha-muda.html